Sejarah Lahirnya Gunung Anak Krakatau: Mewarisi Erupsi & Tsunami IDFL Forum


 


Texaspoker

... ...

Casino198 http://oi68.tinypic.com/ftq95.jpg

Koinhoki™ Bandar Judi Poker Online Terpercaya, Games Domino QQ Online Terbaik, Agen poker Online Terbaik dan Situs Judi Poker Online Dengan Uang Asli Resmi Di Indonesia BONANZA88

Crown303 - Bandar Judi Bola, Daftar SBOBET Online Simpatiqq - Agen Poker Terpercaya , Pokerace99

Results 1 to 1 of 1

Thread: Sejarah Lahirnya Gunung Anak Krakatau: Mewarisi Erupsi & Tsunami

  1. #1


    dnsmurni's Avatar
    User ID
    203210
    Join Date
    March 2nd, 2019
    Posts
    3,372
    Thanks
    3
    Thanked
    196
    Rep Power
    228

    No Status for Today

     

    Sejarah Lahirnya Gunung Anak Krakatau: Mewarisi Erupsi & Tsunami


    Longsoran Gunung Anak Krakatau memicu gelombang tsunami di Selat Sunda pada Sabtu (22/12/2018) lalu dan masih berpotensi terjadi. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sejak Kamis (27/12/2018) pun meningkatkan status aktivitas gunung ini dari Waspada menjadi Siaga. Bagaimana sejarah erupsi dan lahirnya Gunung Anak Krakatau?

    Pada abad ke-5 Masehi, Gunung Batuwara meledak hebat dan menimbulkan tsunami besar. Sebagian tanah ambles, membentuk Selat Sunda, serta membelah sebagian Pulau Jawa yang melahirkan Pulau Sumatera. Beberapa ahli geologi kala itu menyimpulkan Gunung Batuwara, yang disebut-sebut dalam naskah kuno Jawa, adalah Gunung Krakatau Purba.

    Dikutip dari buku Krakatau: Laboratorium Alam di Selat Sunda (2007) terbitan Pusat Survei Sumber Daya Alam Laut Universitas Indonesia, letusan ini mengakibatkan Gunung Krakatau Purba hancur dengan menyisakan kaldera (kawah besar) di bawah laut. Tepi kawahnya membentuk tiga pulau, yakni Pulau Rakata, Pulau Panjang (Pulau Rakata Kecil), dan Pulau Sertung.

    Lantaran dorongan vulkanik dari dalam perut bumi, Pulau Rakata, satu dari ketiga pulau hasil letusan Gunung Krakatau Purba pada abad ke-5 M, berkembang menjadi gunung baru yang terbuat dari batuan basaltic. Dalam proses ini, lahir dua gunung lain dari kawah di area yang sama, yakni Gunung Danan dan Gunung Perbuwatan.

    Gunung Turun-Temurun
    Oman Abdurrahman dan Priatna dalam buku Hidup di Atas Tiga Lempeng: Gunung Api dan Bencana Geologi (2011) mengungkapkan, gunung dari Pulau Rakata, Gunung Danan, dan Gunung Perbuwatan, tumbuh bersama dalam proses yang sangat lama. Ketiga gunung inilah yang kemudian bersatu menjadi Gunung Krakatau.

    Menjelang dini hari tanggal 27 Agustus 1883, ketika wilayah Nusantara di bawah penguasaan pemerintah kolonial Hindia Belanda, Gunung Krakatau meletus dengan dahsyatnya. Terjadi empat kali ledakan besar, disusul empat kali pula gelombang tsunami di Selat Sunda.

    Catatan pemerintah kolonial, dikutip Kartono Tjandra dalam buku Empat Bencana Geologi yang Paling Mematikan (2018), menyebutkan, lebih dari 36 ribu orang tewas akibat erupsi Gunung Krakatau ini. Referensi lain bahkan mengklaim jumlah korban jiwa jauh lebih besar, hingga 120 ribu orang.

    Wimpy S. Tjetjep dalam buku Dari Gunung Api hingga Otonomi Daerah (2002) menuliskan, letusan besar Gunung Krakatau tahun 1883 menghancurkan sekitar 60 persen dari tubuh gunung itu. Di bekas berdirinya Krakatau, tersisa kaldera purba yang sama dengan kejadian pasca-erupsi Gunung Krakatau Purba pada abad ke-5.

    Dari area kawah besar yang masih aktif itu, lahir lagi gunung baru yang mulai terlihat sejak 1927 atau empat dekade setelah erupsi Gunung Krakatau tahun 1883. Gunung terbaru inilah yang kemudian dinamakan Gunung Anak Krakatau.

    Siaga Anak Krakatau
    Pertumbuhan Gunung Anak Krakatau berjalan relatif cepat, tiap bulan bertambah tinggi sekitar 0,5 meter. Pada perkembangan awalnya, gunung ini menjadi lebih tinggi sekitar 6 meter dan lebih lebar 12 meter setiap tahunnya. Namun, sejak dekade 1990-an, penambahan tingginya agak melambat.

    Menurut catatan PVMBG, sejak awal munculnya hingga tahun 2000 atau dalam jangka waktu 73 tahun, Gunung Anak Krakatau meletus sebanyak lebih dari 11 kali, tetapi belum sampai pada taraf yang mengkhawatirkan.

    Tahun 2018, aktivitas Gunung Anak Krakatau mengalami peningkatan, hingga terjadilah tsunami di Selat Sunda pada 22 Desember 2018 lalu yang menelan korban ratusan jiwa. Gelombang air bah menerpa lantaran dipicu oleh runtuhan sebagian tubuh gunung yang longsor di dalam laut.

    Hingga saat ini, Gunung Anak Krakatau terus dipantau karena potensi tsunami masih bisa terjadi lagi. Status yang ditingkatkan menjadi siaga juga sebagai antisipasi apabila Gunung Anak Krakatau erupsi. Hujan abu pun mulai dirasakan sebagian wilayah Banten.

    “Gunung Anak Krakatau [dinaikkan statusnya] dari Waspada (Level II) menjadi Siaga (Level III)," jelas Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, Kamis (27/12/2018).

    "Masyarakat dan wisatawan dilarang melakukan aktivitas di dalam radius 5 km dari puncak kawah karena berbahaya dan dapat terkena dampak erupsi berupa lontaran batu pijar, awan panas serta abu vulkanik pekat,” imbuhnya.


    Butuh Refferal dengan Bonus Tinggi? Dan dibayar setiap hari?
    Hubungi Kita! WA : +8557.1901.0707

  2. # ADS
    indonesian.library@yahoo.com
    Join Date
    14.Feb.2012
    Posts
    Contact Us For Cheap Advertising
     

Tags for this Thread

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •  

Our Friends

Subscene | Rehmoe | Pein Akatsuki | index-subtitles | SmallEncode.com

VPS Murah | Pahe.in - 480p & 720p movie | SoundIndo | Marvel Universe | ReRips | Moxkid Movie

sharedualima | VPS Indonesia | Film Box Office | GriyaPC | er1ck9.Blog

 Hosting Indonesia | Dunia-Lebah | Robandit | movienthusiast | topgans

Kafe Download | NontonGratis | KBBI Online | enthus1ast.com | DHQmusic


Feel free to Contact Us


UNTUK PERIKLANAN HUBUNGI KAMI

 IDFL.Forum@gmail.com / PeinAkatsuki_IDFL@yahoo.com / LebahGanteng@yahoo.co.id : Email
  Erix-IDFL / PeinAkatsuki_IDFL: Skype
 
xire : LINE
  +62 818-0218-0085 / +62 822-6454-4221 / +62 881-3266-906 : Whatsapp 
  +62 818-0218-0085
: Telegram