Gunung Merapi kembali meletus pada Minggu (17/11/2019) kemarin disertai kolom asap setinggi 1.000 meter dari puncak serta diikuti luncuran awan panas. Merapi punya riwayat erupsi dari zaman ke zaman, salah satunya adalah letusan Merapi tahun 1006 Masehi yang konon telah mengubah jalannya sejarah peradaban Jawa.

Merapi adalah gunung api paling aktif di Indonesia. Terletak di sebagian wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah, gunung dengan ketinggian 2.968 meter ini termasuk 16 gunung api dunia dalam proyek Decade Volcanoes, demikian menurut United States Geological Suvey (USGS).

Erupsi Merapi pada 1006 disebut-sebut merupakan letusan terdahsyat sekaligus paling memantik perdebatan. Sebagian pihak meyakini, letusan besar gunung yang menyimpan banyak mitos dan legenda ini mempengaruhi perjalanan riwayat kerajaan besar di Jawa, kendati belakangan mendapat bantahan dari kalangan yang tidak sepakat.

Erupsi Merapi Tahun 1006
Terdapat beberapa hal yang menyebabkan munculnya angka tahun 1006 –yang dalam prasasti atau naskah lama disebut dengan istilah pralaya (bencana besar) – terkait sejarah erupsi Merapi dan membuatnya dianggap sebagai suatu kebenaran.

Salah satunya adalah penemuan Prasasti Pucangan yang berangka tahun 1041 Masehi. Diyakini oleh H. Kern dalam Een Oud-Javaansche steeninscriptie van Koning Er-Langga (1913), prasasti yang dibuat oleh Raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan tersebut mengungkapkan telah terjadi pralaya di Kerajaan Mataram Kuno pada 928 Saka atau 1006 Masehi.

Kerajaan Mataram Kuno atau sering disebut pula dengan Kerajaan Mataram Hindu merujuk kepada Kerajaan Medang yang semula diperkirakan berpusat di sekitar Yogyakarta kemudian di daerah Kedu, dekat Temanggung, Jawa Tengah.

D.H. Labberton dalam Oud Javaanesche Gegevens Omtrent de Vulkanologie van Java (1922), melanjutkan analisis Kern, kemudian mengaitkan kemungkinan penyebab runtuhnya Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah tersebut dengan kejadian vulkanik.

Perkiraan Labberton didukung oleh R.W. van Bemmelen lewat The Geology of Indonesia (1949). Bemmelen bahkan menyimpulkan bahwa letusan Gunung Merapi tahun 1006 itu telah mengakibatkan perpindahan Kerajaan Mataram Hindu ke Jawa Timur.

Menurut Bemmelen, pindahnya Kerajaan Mataram Kuno ke Jawa Timur, tepatnya di daerah Jombang sekarang, pada era Sri Maharaja Rakai Hino Sri Isana Wikramadharmottunggadewa atau Mpu Sindok.

Dampak Merapi Meletus 1006
Letusan Merapi tahun 1006 itu diyakini mengganggu pemerintahan, bahkan merusak peradaban Mataram Kuno di Jawa Tengah. Longsoran lahar dingin Merapi membuat Sungai Progo terbendung serta membentuk Perbukitan Gendol yang terletak di bagian barat Merapi.

Diperkirakan pula, gempa bumi menyertai pergerakan itu dan merusak sebagian Candi Borobudur dan Mendut yang dibangun pada abad ke-9. Aktivitas tektonik ini diikuti dengan terjadinya longsoran Merapi dan letusan besar yang hasil letusannya diperkirakan menutup candi-candi tersebut.

Candi Sambisari yang terletak di Kalasan, Sleman, Yogyakarta juga terdampak erupsi ini. Hal tersebut terungkap dalam penelitian berjudul “Menelusuri Kebenaran Letusan Gunung Merapi 1006” oleh Supriati Dwi Andreastuti, Chris Newhall, dan Joko Dwiyanto.

Hasil riset yang yang terhimpun dalam Jurnal Geologi Indonesia (2006) itu memaparkan bahwa kompleks Candi Sambisari ditemukan berada 6,5 meter di bawah tanah yang tidak lain adalah timbunan lahar dingin Merapi.

Dipaparkan, kompleks candi bercorak Hindu yang berlokasi tidak jauh dari Candi Prambanan dan Candi Kalasan ini ditemukan berada 6,5 meter di bawah tanah yang tidak lain adalah timbunan lahar dingin Merapi.

Permukaan tanah di sekeliling Candi Sambisari sebelumnya diduga tidak lebih tinggi dari tempat candi dibangun. Namun, gelombang lahar dingin dari letusan Merapi tahun 1006, yang berupa batu, tanah, dan pasir, telah menimbun kompleks percandian tersebut. Di sekitar candi juga masih banyak ditemukan batu-batu material vulkanik.

Laporan “Pertemuan Ilmiah Arkeologi pada 21-25 Februari 1977” (1980) yang diterbitkan Dinas Proyek Penelitian dan Penggalian Purbakala Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyebutkan, pembangunan Candi Sambisari kira-kira berlangsung pada dekade kedua abad ke-9 Masehi, atau dua abad sebelum erupsi Merapi tahun 1006.

Kala itu, wilayah Sambisari merupakan bagian dari area kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno dari Wangsa Sanjaya. Raja Mataram Kuno keturunan Sanjaya yang berkuasa pada periode tersebut adalah Rakai Garung (828-846 Masehi).

Kerajaan Mataram Kuno inilah yang kemudian disebut-sebut dipindahkan ke Jawa Timur pada masa Mpu Sindok akibat meletusnya Gunung Merapi pada 1006. Kendati begitu, nantinya muncul bantahan dari kalangan ahli lainnya terkait keyakinan akan kejadian sejarah ini.