Stockholm - Militer Swedia tertipu oleh seorang pria yang masuk ke satuan militer dengan menggunakan ijazah palsu. Pria yang berhasil menjadi tentara Swedia ini bahkan telah dipromosikan untuk bekerja sebagai salah satu staf di markas NATO dan ikut dikerahkan dalam misi PBB.

Seperti dilaporkan surat kabar lokal Swedia, Dagens Nyheter dan dilansir AFP, Kamis (16/1/2020), pria yang tidak disebut namanya ini, ketahuan telah berbohong soal pengalaman dan memalsukan ijazah dari akademi militer.

Pria ini telah mengabdi pada militer Swedia selama lebih dari satu dekade. Dia telah menyelesaikan penugasan di berbagai posisi dan misi internasional, termasuk misi ke Afghanistan dan tahun lalu, misi pasukan penjaga perdamaian PBB, MINUSMA, di Mali.

Militer Swedia dalam pernyataannya mengakui bahwa pria itu 'dipekerjakan secara salah'. Dikonfirmasikan juga dalam pernyataan militer Swedia bahwa pria itu pernah bekerja pada Markas Tinggi Kekuatan Sekutu Eropa (SHAPE) milik NATO di Belgia.

"Orang ini bekerja sebagai petugas penghubung (liaison officer) Swedia dan bekerja dengan sebuah sistem IT yang digunakan dalam kerangka kerja bagi operasi-operasi militer di mana Angkatan Bersenjata Swedia memiliki personel," demikian pernyataan militer Swedia.

Ditambahkan militer Swedia bahwa NATO telah mendapatkan informasi detail soal kasus ini pada Senin (14/1) lalu.

Laporan Dagens Nyheter menyebut bahwa pria itu bertugas pada Jaringan Misi Afghanistan -- sebuah sistem yang saat ini tidak berfungsi, yang pernah digunakan oleh 48 negara dalam berbagi informasi intelijen, pengawasan dan pengintaian -- sepanjang tahun 2012 hingga 2013 pada markas NATO.

Pria ini naik pangkat meskipun tidak menyelesaikan pelatihan militer wajib dan bahkan sempat dipromosikan sementara agar bisa bekerja di markas NATO.

Ditegaskan militer Swedia bahwa pihaknya tengah melakukan penyelidikan terkait kasus ini.

Swedia diketahui bukanlah negara anggota NATO, namun memiliki hubungan dekat dengan aliansi militer itu dalam beberapa tahun terakhir setelah Rusia mencaplok Crimea di Ukraina. Tahun 2016, pemerintah Swedia meratifikasi sebuah perjanjian yang menjadikan Swedia sebagai 'negara tuan rumah' bagi NATO, yang memudahkan NATO untuk beroperasi di wilayah Swedia.