Baghdad - Korban luka akibat serangan rudal Iran terhadap markas pasukan militer Amerika Serikat (AS) di Irak awal bulan ini, ternyata lebih banyak daripada yang diungkapkan sebelumnya. Beberapa tentara AS kembali diterbangkan dari Irak menuju Jerman untuk menjalani pemeriksaan medis lebih lanjut.

Seperti dilansir Associated Press, Rabu (22/1/2020), sejumlah pejabat pertahanan AS yang enggan disebut namanya mengungkapkan bahwa beberapa tentara AS diterbangkan keluar dari Irak karena mengalami potensi gegar otak akibat serentetan serangan rudal Iran pada 8 Januari lalu.

Jumlah pasti dari tentara AS yang diterbangkan ke Jerman, tidak diketahui pasti. Namun menurut pejabat pertahanan AS itu, jumlahnya 'kecil'. Pekan lalu, sedikitnya 11 tentara AS diterbangkan dari Irak menuju fasilitas medis AS di Jerman dan Kuwait untuk menjalani pemeriksaan menyeluruh atas gejala gegar otak yang mereka alami akibat serangan rudal Iran.

Juru bicara Komando Pusat AS, Kapten Angkatan Laut Bill Urban, mengonfirmasi adanya evakuasi tambahan terhadap tentara AS di Irak, namun dia tidak menyebut berapa personel yang dievakuasi.

"Saat perawatan medis dan evaluasi di ruang perawatan berlanjut, beberapa tentara lainnya diidentifikasi memiliki potensi cedera," sebut Urban dalam pernyataan pada Selasa (21/1) malam waktu setempat.

"Para tentara ini -- karena banyak kehati-hatian -- telah dibawa ke Landstuhl, Jerman, untuk evaluasi lebih lanjut dan mendapat perawatan yang diperlukan atas dasar rawat jalan. Merujuk pada kondisi cedera yang tercatat, dimungkinkan cedera tambahan diidentifikasi di masa-masa mendatang," imbuh Urban.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan dirinya diberitahu bahwa tidak ada warga Amerika yang menjadi korban serangan rudal Iran. Pertanyaan soal korban jiwa dari AS sangat signifikan pada saat itu karena dampak serangan rudal Iran sangat menentukan bagi AS dalam memutuskan untuk membalas Iran atau tidak.

Trump memilih untuk tidak melancarkan serangan balasan dan ketegangan dengan Iran sedikit mereda.

Beberapa hari setelah serangan rudal Iran, pemeriksaan medis yang dilakukan secara prosedural menemukan bahwa sejumlah tentara AS yang berlindung di bunker saat serangan terjadi, menderita gejala-gejala gegar otak. Tidak ada korban tewas dalam serangan rudal Iran yang merupakan aksi balasan atas kematian Qasem Soleimani, Komandan Pasukan Quds Iran, dalam serangan drone AS pada 3 Januari lalu.